Bakmie Karet, what an interesting naming. Cats and Coffee Paradoks Space Couvee

August 14, 2017

Cats and Coffee

August 14, 2017

Paradoks Space

August 14, 2017

Couvee

Newest

Bakmie Karet, what an interesting naming.

Sebenarnya yang namanya Mie, Mie Keriting, Mie Pangsit, Mie Goreng sangatlah umum bagi penghuni kota Medan. Hampir di setiap sudut kota pasti terdapat gerai yang menjual Mie, dan rata-rata penjualnya berasal dari kota Siantar.

Lalu apa yang ditawarkan oleh Bakmie Karet ini? #BukanDariSiantar.

Bakmie Karet Jln. Perak

Sang Ayi (Ibu) penjual Bakmie Karet ini seorang wanita tangguh, pahlawan wanita sejati. Ciyehhhh. Why do I say so? Karena si Ayi bekerja solo, tanpa ada bantuan siapapun. Rutinitas dimulai dari pagi buta mempersiapkan daging saus kecap, membuka gerai, merebus mie, merebus sayur sawi dan tauge, hingga menyajikannya ke meja para pemburu bakmie yang sudah mulai berdatangan pada jam 6 pagi. Keren kan, guys?

Stall yang sederhana dan bersih

Sebelumnya, Bakmie Karet berjualan di Jln. Intan, dan Ayi menempati lokasi baru ini sejak mungkin 3 bulan yang lalu (cmiiw ya, guys).
Menurut Ayi, bisnis di Jln Perak jauh lebih bagus dibandingkan dengan pada saat masih di Jln. Intan. Well, this is how Feng Shui works.

Bakmie Karet Jln. Perak Medan

Tempatnya sederhana banget dan sudah pasti tidak ber-AC ya, yang penting bersih dan nyaman. Kunjungan kami pagi itu terasa begitu berkesan — read more to know why.

Bakmie Karet, Jln. Perak, Medan

Kebetulan pagi itu belum ada pelanggan lain selain saya dan teman saya, beberapa saat kemudian, beberapa pelanggan mulai berdatangan.
And it’s almost full house when we were about to leave.

Ayi yang super ramah

As I mentioned above, Auntie owner works solo and enjoys every minute of it.
She came to us and asked if her cooking suited our taste. Not many owners do this.

Bakmie Karet (non halal)

Dan tadaaaa…!! Ini yang ditunggu-tunggu! The first slurp was GOOD!
Tekstur mie yang al dente berpadu dengan potongan daging babi, rebusan sayur sawi, bawang goreng dan yang terpenting adalah PORK LARD!
Will anyone say NO to lard?
ANYONE?

Let you have another closer look.Ditarik, mang….!!

I don’t usually like salty-based food, my taste buds are more attuned to sweet than salty. Noodle here is salty based, but I amazingly fell for it since the first slurp!

Anda penggemar Bakmie Kaka? You SERIOUSLY should come here and check it out!
Anda bukan penggemar Bakmie Kaka? You SERIOUSLY should come and check it out too because love is blind.

Free flow teh dan kopi.Teh Manis? Gula tersedia di meja. Teh Tong? Go ahead!

And what’s the best of the best part here? FREE FLOW TEA/COFFEE! W.O.W!
Sumpah, ini pertama kali saya tahu ada gerai mie yang menyajikan free flow teh/kopi! Atau mungkin Ayi repot kalau harus buat minum lagi kali ya, makanya dikasi free flow dan self-service. What a generous Auntie, no matter what!

Then, what are you waiting for? Go there tomorrow morning, sit down and eat a bowl or two?! 14K only for 1 standard bowl, cheap and good! Recommended!

Bakmie Karet
Jln. Perak no. 21, Medan. (lihat foto lokasi diatas ya)
Senin-Minggu / 07.00 — 11.00 or 12.00
Lokasi : https://goo.gl/maps/SsAbYaR14wo

Bakmie Karet, what an interesting naming. was originally published in Makanmana on Medium, where people are continuing the conversation by highlighting and responding to this story.

Cats and Coffee

Katanya orang sih mainan kucing itu bisa menurunkan tingkat stres, tapi kucing beneran yah bukan kucing tanda kutip Nah di Jogja nih sekarang ada juga cat cafe kayak di Jakarta, namanya Cats and Coffee yang berlokasi di jalan bougenville, Sleman, lebih tepatnya sebelahan sama Kronology yang waktu itu saya pernah review. Patokannya ada di seberang Mangrove Printing.


Di tempat ini sih lumayan banyak kucingnya ada sekitar 6-8 ekor, dan semuanya jenis kucing angora/persia gitu deh. Kucing garong yang jelas ga ada. Terus karena kucingnya kucing mahal semua yang manja dan jelas berbeda dengan kucing kampung, jadi semua pengunjung yang mau masuk sini harus lepas sepatu dan pakai hand sanitizer yang diletakin di pintu masuk. Terus ada banyak peraturan-peraturannya gitu deh, intinya sih supaya jangan sampai kucingnya stres.


Kalau dari segi menu minuman yang ditawarkan sih gak banyak ya. Dan kayaknya juga kopinya pakai kopi sachetan gitu. Tapi who cares lah, karena mostly yang kesini karena cuma pengen mainan kucing. Saya sih sebetulnya lebih ke dog person daripada cat person, jadi ya chill aja.

Buat yang suka kucing dan pengen mainan kucing bolehlah main kesini, tapi kalau nyari kopi enak dengan ambience kafe yg lebih nyaman kayaknya nggak deh. Soalnya ya rada bau khas hewan gitu sih. Ciao!

Paradoks Space

Kalau ada yang bertanya-tanya dalam hati kenapa sih Gadisrakus sekarang banyakan review coffee shop, jadi gini lho gaes, kalau yang ngikutin instagram saya pasti tau kalau sebulan terakhir ini saya lagi ikut HPLC bukan bukan Hamis Pacarnya Laisadanaku Cedih *krik* tapi High Protein Low Carb diet. Jadi pola makan saya benar-benar berubah, yang tadinya nggragas banget sekarang yah lebih behave dikit. Jadi yaa, karena saya sekarang lebih banyak makan sayuran macam DJ Butterfly junjunganque, hiburannya yah cuma ke coffee shop aja. Tapi tenang segmen kuliner tetep masih ada lho, ya nama blognya aja masih Gadisrakus bukan Gadisdiet *kriklagi*

Okeh panjang bener intronya, cus sekarang Gadisrakus mau review salahsatu coffee shop yang berlokasi di Pandega Karya No. 20, Kaliurang KM 5. Tempatnya juga rada masuk-masuk kedalam perumahan warga sih. Tapi herannya penuh-penuh aja, soalnya lokasinya deket kampus kali ye (UGM dll).

Selain tempatnya yang di perumahan warga, coffee shopnya juga mungil dan plangnya gak terlalu gede jadi harus dilihat dengan seksama. Patokannya kalau kamu masuk dari RingRoad posisinya sebelah kiri sebelum Waroeng Steak.


Dine in areanya gak gitu gede sih, dan mejanya juga jenis yang berbagi sama orang lain. Dan kamu ga bisa berisik di sini karena yang kesini rata-rata emang beneran lagi ngerjain tugas. Intinya bukan coffee shop buat rame2 sambil gosip haha hihi deh.


Saya cuma memesan Vietnam Drip (25k) karena pilihan kopinya sedikit banget. Kalau dari segi rasa, saya lebih suka Vietnam Drip di SUA karena rasanya pas. Karena buat saya pribadi kopi yang cucok buat vietnam drip itu yang punya after taste asam sedikit pahit, jadi pas nyatu sama condensed milknya tuh mantep banget. Sedangkan disini kopinya terlalu light, kayak keenceran atau mungkin jenis kopinya yang gak oke. Dan baristanya bikin pesanan saya luamaa banget ada kali setengah jam, padahal coffee shop dalam keadaan ga terlalu penuh.

Btw mereka juga nyediain makanan berat macam nasi dori sambal matah, sate taichan dll. Jadi kalau lagi ngerjain tugas di sini ga usah takut kelaperan, kalo terpaksa ya jalan dikitlah ke WS. Ciao!

Couvee

Satu lagi coffee shop junjunganku yang rasa kopinya menurut saya enak. Btw, demam es kopi susu macam di Jakarta ternyata menyebar juga di sini. Dan Couvee yang berlokasi di Gg. Wuni No.42, Caturtunggal, Sleman ini emang terkenal sama es kopi susunya. Kebanyakan sih gojek yang kesini soalnya tempatnya kecil banget, kurang sip buat kongkow lama-lama walau wifinya kenceng. Btw, Couvee ini gak terlalu susah dicari karena berlokasi di jalan gede, tepatnya sebelahnya Tempo Gelato Jakal.


Waktu kesini saya memesan 2 signature kopi andalan mereka, yaitu Necta & Malacca. Kalau dari segi penampakan sih kayak ga ada bedanya. Dari segi rasa cuma beda tipis, yang Necta pakai madu jadi rasa manisnya samar-samar, kalau yang Malacca pakai palm sugar jadi manisnya lebih legit tapi gak berlebihan. Dua-duanya sih enak, tapi favorit saya yang Malacca. Menurut informasi dari baristanya mereka pakai biji kopi house blend alias mereka ngeramu sendiri tapi basically ada campuran biji kopi Balinya. Oya harganya juga gak bikin kantong bolong, masing-masing 24k aja 😊

Ekologi 

Kalau mau bandingin apple to apple secara konsepnya, antara Antologi dan Ekologi saya lebih suka Ekologi sih hehehe baik dari rasa kopinya dan suasananya. Kalau lokasinya sih ya wassalam deh 11-12 sama Antologi agak blusuk-blusuk, yaitu di Jl. Pandean Sari No.4, Condongcatur, Sleman.

Di Ekologi secara space lebih luas dan lebih ‘hijau’. Mereka punya outdoor space yang bagus anet, sayang pas saya kesana lagi rame jadi gak kebagian duduk di luar. Jadi semi-semi garden gitu dan duduknya pakai beanbag. Duduk di dalam juga enak sih, banyak sofa empuk, tempat duduk dan colokan juga banyak.


Saya memesan Iced Caramel Macchiato (35k) waktu kesana. Surprisingly enaaakk, mirip caramel macchiato di toko kopi berlogo duyung hijau itu. Curiga baristanya mantan pegawai disana heheehe..pokoknya rasanya sama persis, bedanya cuma tersedia dalam dua ukuran aja small dan large. Kalau ada venti ogut pesen deh. Oiya kalau kesini jangan lupa bawa cash ya, karena pas saya kesini kemarin mau bayar pake debit belum bisa. Ya semoga aja cepet punya mesin edc biar ga ribet cari ATM dulu. Ciao!

Dapur Manado

Di Jogja gak selalu harus makan gudeg lho, Dapur Manado yang berlokasi di Jl. Argolubang, Gondokusuman, Baciro ini bisa juga jadi pilihan kalo bosen sama masakan Jawa. Pertama kali saya pengen makan di sini soalnya tertarik sama bangunannya yang kuno. Jadi resto ini bertempat di rumah Belanda gitu.


Interiornya ditata cukup apik, khas resto Indonesia. Ada outdoor dan indoor dining area juga. Restonya juga lumayan besar, cocok buat jamuan keluarga atau acara kantor. Oiya di sini masakan Manadonya halal yah.


Saya dan teman hanya memesan tiga menu aja dan saling sharing, dan kue dadar gulung. Yang kita pesan bubur tinotuan, tumis kangkung dan ikan tude bakar rica. Hmm saya tekanin lagi yah, kalau kuliner itu about personal taste. Mungkin taste saya dan kalian gak sama. Tapi kalau berpatokan sama beberapa resto Manado langganan saya di Jakarta (Beautika, Cak Tu Ci dan Tude) rasanya agak jauh sih. Apalagi gak dikasih sambal tambahan dan sambelnya juga ga pidis. Kalau di Cak Tu Ci dan Tude Manado biasanya kalau pesan ikan bakar kan dikasih compliment sambal rica-rica dan dabu-dabu juga. Yang saya suka cuma ikannya lumayan segar dan ga amis. Tumis kangkung, bubur tinutuan dan kue dadarnya standar. Dan pas kesana siang hari beberapa kue-kue khas Manadonya sudah habis seperti lalampa, apang coe atau koyabu.

Tapi kalau kamu lagi cari resto Manado halal, tempat ini bisa jadi pilihan lho. Ciao!

Antologi Collaborative Space 

Sekarang di Jogja selain coffee shop biasa banyak juga yang jadi satu sama working space atau gallery gitu. Salahsatunya Antopology Collaborative Space yang berlokasi di Jl. Gayamsari No.19C, Caturtunggal, Sleman. Tempatnya agak susah dicari sih karena bener-bener masuk-masuk gang perumahan warga. Tapi mungkin suasana yang jauh dari hiruk pikuk itulah yang dicari, karena tempat ini emang enak banget buat kerja atau ngerjain tugas.

Terdiri dari dua lantai, coffee shop ini berkonsep industrial. Yang saya paling suka tulisan-tulisan kapur di dindingnya, dan spot-spot membaca di jendelanya. Nerdy tapi tetep trendy gitulah suasananya.


Tempat ngeracik kopinya open space jadi bisa sekalian mantengin. Bisa juga tanya-tanya dulu biji kopi yang mau dipake buat bikin kopi, baristanya sangat menguasai product knowledge dan ga segan-segan kasih info.


Karena lagi ngurangin kopi biar gak susah tidur, saya cuma memesan Macha Latte (30k). Macha lattenya sih kalau menurut saya agak encer ya dan gak ada rasa machanya, jadi kayak minum creamer warna hijau *ooppss


Di kedatangan kedua saya memesan standar Cappucino (30k). Latte artnya agak berantakan, mungkin mas baristanya lelah. Cappucinonya saya pilih pakai robusta, rasanya terlalu light dan agak encer juga ya. Terlalu latte.

Entahlah mungkin aja saya salah, atau memang kopinya kurang sip. Karena yang saya liat sih pengunjung yang datang kebanyakan pesan smoothies atau yang non-coffee gitu. Buat ngerjain tugas sih oke banget, tapi kalau nyari kopi yang enak ya balik lagi ke selera masing-masing. Ciao!

Jajan-Jajan Lucu di Pasar Kangen Jogja 2017

Holaa saya kembali lagi hihihihi *ketawa ala kuntilanak* review kali ini sebenernya cuma mau ngerekap aja hasil perburuan saya di Festival Pasar Kangen Jogja yang sempet diadain di Taman Budaya. Yang menarik dari festival ini sih soalnya banyak banget jajanan tradisional tempo doeloe, bagus juga sih sekalian memperkenalkan kuliner tradisional Jogja tanpa ribet kesana kesini. Pokoknya jajanan dari semua kabupaten yang ada di Jogja tumplek blek dimari. Apa ajakaahh yang saya cobain, nih cuss disimak.

# Kopi Jo


Kopi Jo ini salahsatu stand yang paling rame di festival ini, sempet ngobrol-ngobrol sama ownernya, sejauh ini sih mereka belum punya cafe tetap jadi munculnya ya pas festival-festival aja. Yang dijual di stand ini gak banyak sih seinget saya cuma teh tarik, kopi susu dan kopi Jo. Apakah kopi Jo itu? Jadi ini signaturenya mereka sih, kopi robusta dicampur dark chocolate dan gula aren. Rasanya sih legit-legit ena. Saya sih suka banget. 2 kali kesini 2 kali juga saya selalu mampir. Tapi ati2 buat yg punya asam lambung atau at least makan dulu sebelum minum kopi ini. Kalau mau tau lebih lanjut intip aja IG mereka @kopijo_ *bukanendorse*

# Jadah & Tempe Bacem Kaliurang


Saya gak yakin sih apakah stand ini punya Mbah Carik atau beda soalnya ga ada tulisannya. Kalau ngomongin jadah tempe Kaliurang soalnya top heitsnya ya si Mbah Carik itu. Saya gak beli jadahnya cuma beli tempe bacemnya aja (1k/biji). Tempe bacemnya sih ya manis tapi kurang legit seperti punya mbah Carik.

# Jajan Pasar


Jajan pasar di sini bener-bener cemilan kampung macam grontol, growot, cenil, gatot, tiwul dll. Saya cobain 3 macem gatot, tiwul dan jenang jagung. Gatotnya enak terbuat dari singkong dan legit, kalau tiwulnya agak hambar gak tau apa rasanya begitu apa nggak (belum pernah makan tiwul) dan jenang jagungnya kurang lembut dan legit, rasa jagungnya juga kurang terasa. Soalnya pernah makan jenang jagung di kampung eyang saya di Blitar, jenangnya enak banget.

# Iwak Peyek Sego Jagung


Pernah denger lagu dangdut itu kan? Iya ternyata itu adalah nama makanan. Jadi sego (nasi) jagung yang dikasih topping urap, sayur tempe pedes, dan iwak peyek. Iwaknya kayak sejenis wader tapi asin gitu. Rasanya ya cukup unik, karena baru kali itu saya makan nasi jagung. Buat beginner kayak saya sih rada aneh ya rasanya karena teksturnya kasar gitu. Tapi kalau dimakan sama sayurnya enak kok 👌🏽

# Sate Kere


Sebenernya ini variannya banyak ada jeroan, lemak, kikil dll. Tapi karena saya gak doyan yang begituan jadi saya cobain yang versi vegetariannya, pakai tempe gembus. Saus kacangnya sama kok kayak sate biasa cuma beda bahannya aja.

# Es Gosrok


Ini sebenernya es tape singkong yang dihalusin terus dicampur es serut dan susu. Rasanya lumayan nyegerin.

# Es Gandoel


Kalau yang ini basically sama kayak es serut, bedanya esnya dibikin bulet dan ditaliin terus disiram sirup warna-warni. Katanya Ibu saya sih ini jajanan tempoe doeloe banget. Maklum saya tinggal di Zimbabwe jadi gak ngerti 😝

# Mie Lethek


Mie lethek ini jajanan khas Bantul, terbuat dari tepung singkong/gaplek. Sekilas mirip bihun, cuma beda di tekstur yang rada kenyel-kenyel. Biasanya dimasaknya dibikin bihun goreng biasa kayak gini. Enak juga 😋

# Jenang Gempol


Stand jenang gempol termasuk yang antriannya panjang banget nih. Soalnya penyajiannya lumayan unik ya, di piring kaleng terus dilapisin daun pisang. Jenang gempol sendiri berupa gempol (bola-bola yang terbuat dari tepung beras, teksturnya kenyel dan rasanya plain) terus dikasih semacam bubur sumsum berwarna coklat (yang rasanya legit manis) dan santan. Kalau suka sih bisa ditambah mutiara juga tapi saya gak suka. Ini enak 👌🏽 sayang porsinya dikit.

# Kipo


Last but not least adalah kipo. Kipo ini jajanan khas Kotagede. Sekilas mirip klepon tapi beda, kalau klepon kan isinya gula merah aja, kalau kipo isinya gula merah yang dicampur kelapa, terus biasanya dipanggang sebentar. Ini juga enak apalagi buat temen minum kopi.

Sekian review kita kali ini dari Pasar Kangen Jogja 2017. By the way seneng banget sih di Jogja lagi banyak festival. Okee deh kakak, see yaa!

38 Coffee Lab

Before you ask, there is no relation between 36 and 38. Coincidently angka 38 ini hanya sebuah nomor yang ditempati coffee shop yang berlokasi di Jalan Dagan. *I’ve yet to ask the owner what does that number means :D

This coffee shop is relatively new, menempati sebuah ruko dengan tema interior yang monochrome.

Di lantai satu hanya terdapat beberapa meja, karena sebagian area telah disekat menjadi dapur dan sebagiannya lagi menjadi bar, but fret not, karena lantai 2 ini maksimal buat seating area.

Lantai 2Not a great view but at least, better than wall

38 Coffee Lab was managed by Jaya Pranata, yang sekaligus merangkap sebagai head barista. On their instagram, he’d love to introduced himself as mintjen, sosok admin yang suka berbagi ilmu kopi lewat caption di instagram postnya.

Jaya, Inspecting coffee extraction

Ada beberapa jenis kopi yang disediakan disini, serta penyajian dalam manual brew atau espresso based. Biji kopi houseblend juga didatangkan dari Tanamera, sebuah coffee shop terkemuka di Jakarta.

Piccolo Latte at 20K only!

Ideally a coffee shop would only serve good coffee and call it a day, tapi sepertinya di Medan konsep ini belum sepenuhnya sustainable. So here comes the food.

Bihun Goreng Aceh Special — with Beef Stew (38K)

Has this coffee shop got affiliated with Aceh? I don’t think so, tapi dari namanya ‘Coffee Lab’, I guess they just like to put experiment in their menu, seperti menu ini — Bihun Goreng Aceh, yang mana bihun goreng dimasak dengan bumbu khas Aceh yang rempahnya bold, plus sepotong semur daging.

Another menu yang ga kalah kreatif ialah Mie Aceh sendiri, with a twist.

Mie Aceh yang pada umumnya menggunakan mie telur ini diganti dengan spaghetti, which is quite unique, combining western dengan bumbu nusantara. Menu yang satu ini, tanpa semur daging harganya lebih murah di 28K

Terdapat beberapa cemilan disini diantaranya Tahu Balik dan Cheese French Fries.

Cheese French Fries 20K — Tahu Balek 20K

Rice? Yes they have it too.

Set Rice Udang Saos Padang, comes with french fries and rice, rejoice carbo mania! (38K)The ultimate must have menu in every cafe — Nasi Goreng Aceh Chicken (28K)

I like how 38 use “Lab” as their brand name. It’s full of experiment, although some are not mature enough for the market.

Espresso Raspberry, espress mixed with soda water and sirup kurnia, not for the weak heart.

Dari sekian banyak menu yang 38 tawarkan, sepertinya tempat ini lebih cocok dikategorikan sebagai cafe. Saya suka variasi menu dan harga disini, not very expensive in my opinion, while still providing tempat yang nyaman untuk makan atau menghabiskan waktu dalam sebuah diskusi dan cengkerama.

Indeed38 Coffee Lab
Jalan Dagan No 2H
Mon-Fri: 10AM – 9PM
Sat: 10AM – 10PM
Sun : 2PM – 9PM
Lokasi: https://goo.gl/maps/ewiyw31f6kv

38 Coffee Lab was originally published in Makanmana on Medium, where people are continuing the conversation by highlighting and responding to this story.

Video: Chef at Home — Nasi Briyani Nyonya Lie

Di segmen CHEF AT HOME, MaMa mengangkat profil para “Food Hero” yang mengedepankan hasrat, idealisme dan kualitas tinggi terhadap kreasi tangan mereka. This is real people, real passion, real story — this is Chef at Home.

Nyonya Lie ialah seorang ibu rumah tangga yang mulai menjual nasi briyani setahun yang lalu, menggunakan resep yang diajarkan suami yang merupakan chef asal Pakistan.

Proses nasi briyani dari Ny. Lie telah melalui evolusi citarasa, yang mana telah disesuaikan dengan lidah lokal. Lalu Bagaimanakah kombinasi resep briyani dari pasangan yang berbeda etnis ini?

https://medium.com/media/9a8dafaeff0ab5379fee3b4bf53b69c2/href

Kamu juga bisa pesan Nasi Briyani NF melalui instagramnya di https://www.instagram.com/nf_briyanirice/

Seperti biasa jangan lupa subscribe untuk update video berikutnya ya!

Follow MaMa on YOUTUBE — Instagram — Facebook

Video: Chef at Home — Nasi Briyani Nyonya Lie was originally published in Makanmana on Medium, where people are continuing the conversation by highlighting and responding to this story.